“Orang lebih tertarik pada video daripada tulisan”
Mungkin Anda pernah mendengar kalimat ini. Bukan hanya dari orang awam, bahkan orang yang sudah lama menulis pun tampak mulai ragu untuk melanjutkan kegiatan menulisnya.
Faktanya, konten berupa video maupun tulisan memiliki market dan segmentasi masing – masing. Jadi tidak perlu khawatir adanya pergeseran pola selera customer. Tulisan pun bisa menghasilkan cuan.
Namun yang menjadi tantangan adalah seringkali kita merasa buntu akan apa yang akan kita tulis. Mulai dari kehabisan ide hingga overthinking apakah tulisan kita bagus atau tidak. Hingga pada akhirnya membuat kita stuck dan berhenti menulis.
Lalu bagaimana agar kita tidak stuck?
Berikut 3 solusi yang bisa Anda coba:
1. Bank ide
Kebanyakan orang berhenti menulis karena kehabisan ide. Perlu dipahami bahwa sebuah tulisan adalah perwujudan apa yang ada di dalam pikiran. Apabila pikiran kita kekurangan input, maka akan sulit menuangkan dalam tulisan.
Sehingga memberi input pada otak adalah suatu keniscayaan agar kita tidak kehabisan ide.
Prioritas pertama agar otak kita memiliki banyak input adalah dengan banyak membaca. Selain memiliki stok materi, dengan membaca juga bisa belajar bagaimana cara penyampaian dari sebuah buku
Karena bukan suatu kebetulan bila buku yang kita baca biasanya berkaitan dengan hal – hal (tema) yang biasa kita tulis.
Bila membaca adalah hal yang sulit, tidak perlu khawatir. Cukup dengan mengingat kejadian – kejadian yang pernah dialami selama beberapa hari terakhir. Kemudian hubungkan dengan tema yang ingin Anda sampaikan pada tulisan. Ini akan menjadi story telling yang bagus
Hot tips: apabila ide tiba – tiba muncul namun belum ada kesempatan menulis, jangan biarkan ide tersebut lenyap. Ambil smartphone, buka google doc, tuliskan ide tersebut.
Munculnya ide adalah hal yang langka. Sangat disayangkan bila hilang begitu saja.
Dan perhatikan…
Tanpa disangka Anda akan memiliki banyak sekali ide (tema) untuk dituangkan dalam tulisan. Sehingga Anda tidak akan pernah kekurangan ide.
2. Membangun kebiasaan
Apabila menulis dianggap sebagai skill, maka tidak ada cara lain selain berlatih terus menerus. Karena tidak ada yang membuat sebuah tulisan bagus selain continuous practices tersebut.
Bukan karena Anda memiliki banyak pengetahuan.
Tapi berlatih, berlatih, dan berlatih…
Setelah Anda memiliki list dari poin 1 di atas, coba sebisa mungkin diwujudkan dalam tulisan. Baik itu untuk kebutuhan blog maupun yang lain.
Lakukan secara rutin. Misalnya pada jam tertentu dan buat target, misalnya membuat 3 tulisan dalam seminggu.
Jangan menunggu mood bagus untuk menulis. Apabila waktu untuk menulis tiba, paksakan untuk menulis.
Stephen King mengatakan, “Amatir duduk dan menunggu inspirasi datang. Tapi kami memilih duduk dan mulai menulis.”
Kehabisan ide? Baca lagi poin no 1
Hot tips:
- Berlatihlah menulis dengan tangan (handwriting). Copywriter handal dunia melakukan ini untuk melatih kemampuan menulisnya
- Set timer sebelum menulis. Mulai menulis dan jangan berhenti sebelum timer berbunyi.
- Jangan lakukan editing pada saat menulis. Ini akan menurunkan kecepatan Anda. Editing dilakukan setelah tulisan selesai
3. Artificial Intelligence
Artificial Intelligent akan membantu Anda mencapai kecepatan menulis pada level tinggi. Namun gunakan AI secara bijak. Karena sebenarnya output dari AI memerlukan penilaian dari orang yang memiliki kompetensi (dalam hal ini penulis).
Ibarat sebuah masakan…
Anda adalah chef. AI adalah mesin pengolah.
Anda perlu memilih bahan terbaik (baca: prompt), kemudian memasukkannya ke dalam wajan (AI). Selanjutnya hasil masakan masih perlu diteliti dan dicicipi sebelum disajikan.
Anda bisa mempelajari bagaimana memanfaatkan AI dalam membuat tulisan disini.
Seseorang bisa berhenti menulis bukan hanya karena tidak ada ide. Melainkan karena ada tujuan yang tidak tercapai. Salah satunya adalah tidak bisa memonetize tulisannya.
Dengan berkembangnya dunia digital sebenarnya potensi monetize tulisan semakin terbuka lebar.
3 dari sekian banyak potensi yang bisa Anda lakukan adalah:
1. Email Marketing
Email merupakan salah satu media marketing yang sering digunakan. Kelebihan dari media ini adalah tingkat deliverability yang nyaris 100%. Walaupun konversi bisa bergantung pada Open dan Click rate.
Anda bisa menuangkan tulisan Anda dalam email – email yang dikirim ke subscriber Anda.
Semakin sering Anda menemui prospek, peluang closing akan semakin besar. Bahkan seorang Daily Email Player mengirim email setiap hari ke subscribernya.
Membosankan?
Tentu saja tidak.
Karena yang dikirimkan bukan email dengan subject semacam “Telah dibuka…”, “Ingin profit naik?” atau “Hari ini promo…”
Kirim email yang menghibur. Bukan email yang sedari awal sudah tertebak bakal dijuali. Story telling akan membantu untuk mencapai tujuan ini.
2. Ebook
Ebook sebaiknya memiliki tujuan spesifik, yaitu memindahkan seseorang dari kondisi awal (ada masalah) ke kondisi yang diinginkan (ada solusi).
Jangan membayangkan ebook harus terdiri dari puluhan atau ratusan halaman. 8 halaman pun sudah cukup (contoh: ebook ini hanya terdiri dari belasan halaman), yang penting tujuan pada paragraf pertama sudah tercapai.
Bila Anda merasa kesulitan menulis dalam jumlah banyak, cukup ambil sub-topik dari tema yang ingin dibahas.
Misalnya tema yang ingin dibahas adalah email marketing, cukup ambil 1 sub-topik (misalnya list building).
Bila Anda belum memiliki tools atau funnel untuk memasarkan ebook Anda, cukup listing di marketplace produk digital (semisal Ratakan atau Utas).
3. Contributor Writer
Saat ini begitu banyak blog yang terbit. Namun tidak semua memiliki waktu untuk mengisi blog tersebut.
Anda bisa mencari tema blog yang sesuai dengan passion Anda, kemudian lihat apakah blog tersebut up-to-date atau tidak. Apabila blog tersebut kurang up-to-date, inilah kesempatan Anda.
Hubungi pemilik blog, dan tawarkan kerjasama untuk mengisi konten blog mereka. Tentunya kenakan charge (fee).
Sebetulnya masih banyak potensi monetize tulisan. Namun apabila bisa menerapkan 3 poin di atas sudah sangat bagus.
Mungkin di luar sana masih banyak yang mengalami masalah dengan penulisan. Bantu mereka dengan share tulisan ini
